Wednesday, April 11, 2012

Lansia Eks Pengungsi Timor Leste Telantar

Sigiranus Marutho Bere | Glori K. Wadrianto | Rabu, 11 April 2012

KEFAMENANU, KOMPAS.com - Warga lanjut usia (lansia) eks pengungsi Timor Leste yang bermukim di Desa Keun, Kecamatan Insana, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur, dikabarkan, sejak memilih menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) pada tahun 1999 silam, sampai sekarang belum mendapat perhatian dari Pemerintah pusat maupun daerah.

Mario Sarmento lansia yang berusia 90 tahun ketika ditemui di kediamannya, Selasa (10/04/2012) kemarin, mengatakan selama ini mereka yang sudah lansia, hanya mengharapkan bantuan dari anak-anak mereka yang rata-rata juga tidak punya pekerjaan tetap.

"Kami sudah berulangkali buat proposal bantuan ke Dinas Sosial Kabupaten TTU, namun sampai saat ini belum ada realisasi. Padahal informasi yang kami dapat bahwa lansia eks pengungsi Timor Leste yang berdomisili di tempat lain dapat bantuan. Kami juga tidak tahu alasan apa lansia di Desa Keun tidak dapat bantuan," jelas Sarmento.

Menurutnya untuk bisa mendapat bantuan mereka harus punya orang dalam yang bekerja di Dinas Sosial. "Susah Pak kalau kita tidak ada orang dalam. Minimal kita harus punya kenalan di dinas baru kita bisa dapat bantuan. Jadi kami yang tidak punya kenalan atau orang dalam, terpaksa harus pasrah menerima nasib. Mau kerja untuk cari uang, fisik kami tidak lagi menunjang, sehingga kami terpaksa mengharapkan bantuan dari anak-anak," kata Sarmento.

Terkait dengan hal itu, Kepala Dinas Sosial kabupaten TTU Simon Soge ketika ditemui di ruang kerjanya, Rabu (11/4/2012) mengatakan, pemberian bantuan kepada para lansia itu menggunakan skala prioritas yaitu bagi lansia yang terlantar saja.

"Tahun 2010 sampai 2011 untuk Kabupaten TTU mendapat jatah dari pemerintah provinsi NTT sebanyak 65 orang Lansia yang akan dibantu dan konsentrasinya di dua kecamatan saja yaitu di Kecamatan Kota dan di Kecamatan Insana dan itu juga hanya untuk beberapa kelurahan saja. Kemudian untuk tahun 2012 ini, kita mendapat jatah 40 Lansia," katanya.

"Dan lansia yang mendapat bentuan tersebut adalah lansia yang telantar, di mana lansia tersebut tidak ada penanggung jawabnya, artinya lansia tersebut hidup hanya suami istri saja atau sebatangkara, kemudian kondisi rumahnya, makanan sehari-hari itu yang di-support melalui jaminan dari dinas sosial yang setiap bulannya mendapat bantuan dana Rp 300.000," jelas Soge.

Jadi, menurut Soge, tidak semua lansia itu mendapatkan bantuan. Alokasi bantuan dari provinsi juga terbatas sehingga hanya untuk daerah-daerah tertentu saja, sehingga dari Dinas Sosial akan melakukan verifikasi di lapangan kepada lansia yang benar-benar layak dibantu.

No comments: